Learning from Attends Australia
( Untuk Tugas Dr. Dirgantara Wicaksono M. Pd )
After five years I lived in the city
of Melbourne , I want to share my opinion is the best example of how a good
system of primary education in Australia . Incidentally my three children to
school in Clayton North Primary School. Whenever escort shuttle , always joy ,
excitement , and fun atmosphere radiated from their faces . They are always
chattering about what is happening at school. For example, the small Sora told
me enthusiastically that he was awarded " student of the week" for
avid reader and always smile to his friends when they go to class .
Our second Jaeza children also did
not lose the spirit of his experience gained appreciation from the teacher due
to very good in doing research (review ) some books in a structured and simple
. From the stories that light , I saw that the school in Australia is able to
present a pleasant atmosphere for learning . In this kangaroo country ,
students are taught mathematical concepts were placed in culture teaches
logical thinking in speech . Their example taught the difference in speed of an
object falling due to have a different weight to different heights .
The children are taught the practice
of a logic " natural event " and then invited to find a formula that
through direct experimentation . An approach that combines all three aspects of
the teaching process to think , if the taste , and if the intention ( action )
. The students are trained how to have the life skills , the habit of reading
every night , tell me what had brought from home in front of the class ( show
and tell ) , music , and learn to socialize .
A learning process that can foster
the ability to empathize and respect each other . To create a safe school
school in Australia to apply the rules of each student must be accompanied by
at least two friends when going to the toilet . They use " buddy " ,
senior students are required to assist , accompany and keep students juniors if
you have problems and need help . Behavior that teaches responsibility and
leadership.
The students were given an
assignment to write and tell you who they are and why the hero is a hero .
Students are taught critical thinking , rational and responsible for his choice
. Quite often the hero selection of children was very unique , such as "
artisan garbage " because they had been instrumental in making the environment
is always clean , healthy and away from diseases .
Students here are introduced early
on the importance of responsibility and duty of every professional job that
they encounter daily , such as police , firefighters , doctors , engineers to
staff the janitor . Children be trained to have a high awareness of the adverse
effects if not follow their rules . There is also a national exam called NAPLAN Test. Its main objective is to
evaluate the school in applying the methods of teaching and learning ( curriculum
) as measured through test results of their students . Thus , students are not
burdened to pass or not .
To sum up in an Australian school
children are not fed by the punishment , memorizing formulas , the burden of
subjects even national exam performance was fantastic . They are only trained
in life skills through cooking lessons , carpentry , gardening , foreign
language recognition , and the cultivation of a positive character early on. To
teach innovation and critical thinking and rational , Australia to train
students from elementary to always read and reflect on reading through the
arguments that are scalable and essay writing were able to exceed the limits of
their imagination .
Campaign ' mental revolution of the
nation ' , not just political jargon , but has been practiced in primary
schools in Australia . They are present directly embed positive and optimistic
character from an early age through the game a fun , easy , affordable without
expensive facilities . For example there is a tradition of school elections
captain , a sort of council chairman for the primary level . Candidates must
register and offer programs and they argue in front of teachers and friends .
They argued interchangeably , without interrupting .
Incidentally my elder son , Aliya
Zahra school was chosen as captain when he was in the sixth grade . He elected
not not only because the program offers and courage argued , but because of its
ability to respect the opinions of others .
When is this atmosphere can be found
and enjoyed by our children in schools Indonesia ? I hope , stories about
school fun it can be collected together and massively distributed to schools in
the archipelago . Perhaps the effort that will help add insight and motivation
for teachers , parents , and children in Indonesia.
So that parents and stakeholders in
education in Indonesia can think critically and not get bogged down by jargon
" internationalization " is only in a foreign language and in
cooperation with foreign institutions . For all students from all walks of life
can easily feel that internationalization is not only learning with expensive
facilities and advanced technology , but rather emphasize the educational
aspects of the character that actually has been taught by the ancestors of the
nation .
In Indonesia Language
Belajar dari Bersekolah di Australia
Setelah
lima tahun lebih saya tinggal di kota Melbourne, saya ingin berbagi pengalaman
yang menurut saya adalah contoh terbaik bagaimana bagusnya sistem
pendidikan tingkat dasar di Australia. Kebetulan tiga anak saya bersekolah
di Clayton North Primary School. Setiap kali
mengantar-jemput, selalu saja keceriaan, kegembiraan, dan
suasana menyenangkan terpancar dari wajah mereka. Mereka selalu berceloteh
mengenai apa saja yang terjadi di sekolahnya. Misalnya si kecil Sora bercerita
dengan antusias bahwa dia mendapatkan penghargaan “student of the
week” karena rajin membaca dan selalu tersenyum kepada teman-temannya
ketika masuk kelas.
Anak-kedua kami
Jaeza juga tidak kalah semangat menceritakan
pengalamannya mendapatkan apresiasi dari gurunya karena sangat baik dalam
melakukan riset (review) beberapa buku bacaan secara terstruktur dan
sederhana. Dari cerita-cerita ringan itu, saya melihat bahwa sekolah di
Australia mampu menghadirkan suasana yang menyenangkan untuk belajar. Di negeri
kangguru ini, siswa diajarkan bagaimana konsep matematika itu ditempatkan dalam
mengajarkan logika berpikir dalam budaya tutur. Mereka misalnya diajarkan
perbedaan kecepatan jatuh sebuah benda akibat memiliki berat berbeda dengan
ketinggian berbeda.
Anak-anak langsung diajarkan praktik
sebuah logika “peristiwa alam” dan kemudian diajak untuk menemukan rumus itu
melalui eksperimentasi langsung. Suatu pendekatan
yang menggabungkan ketiga aspek pengajaran yakni olah pikir, olah rasa, dan
olah karsa (tindakan nyata). Para siswa dilatih bagaimana memiliki keterampilan
hidup, kebiasaan membaca setiap malam, menceritakan apa saja yang dibawanya
dari rumah di depan kelas (show and tell), musik, dan belajar bersosialisasi.
Suatu proses belajar
yang dapat menumbuhkan kemampuan berempati dan saling menghargai
satu sama lain. Untuk menciptakan sekolah yang aman sekolah di Australia
menerapkan aturan setiap siswa harus ditemani oleh minimal dua kawan ketika
pergi ke toilet. Mereka menerapkan sistem “buddy”, siswa senior
diwajibkan membantu, menemani dan menjaga siswa yunior jika mengalami kesulitan
dan membutuhkan bantuan. Perilaku yang mengajarkan tanggung jawab dan
kepemimpinan.
Para siswa diberi tugas untuk
menulis dan menceritakan siapa pahlawan mereka dan mengapa dianggap pahlawan.
Siswa diajarkan berpikir kritis, rasional dan bertanggungjawab atas pilihannya.
Tak jarang pilihan pahlawan anak-anak itu sangat unik, misalnya “tukang
pengangkut sampah” karena dianggap telah berjasa membuat
lingkungan selalu bersih, sehat, dan jauh dari penyakit.
Siswa di sini
sejak dini diperkenalkan pentingnya tanggungjawab dan tugas
setiap profesi pekerjaan yang mereka jumpai sehari-hari, misalnya polisi,
pemadam kebakaran, dokter, insinyur hingga petugas petugas kebersihan.
Anak-anak menjadi terlatih untuk memiliki kesadaran tinggi dampak buruk jika
tidak mengikuti aturan mereka. Ada juga ujian nasional yang disebut NAPLAN Test. Tujuan utamanya ialah
mengevaluasi sekolah dalam menerapkan metode belajar-mengajar (kurikulum) yang
diukur melalui hasil test siswanya. Dengan demikian, siswa tidak terbebani
untuk lulus atau tidak.
Singkatnya anak anak di sekolah
Australia tidak dicekoki oleh hukuman, hapalan rumus, beban mata pelajaran
bahkan prestasi ujian nasional yang fantastis. Mereka hanya dilatih
keterampilan hidup melalui pelajaran memasak, pertukangan, berkebun, pengenalan
bahasa asing, dan penanaman karakter positif sejak dini. Untuk mengajarkan
inovasi dan pola pikir kritis dan rasional, Australia melatih siswanya sejak SD
untuk selalu membaca dan merefleksikan bacaannya melalui argumentasi yang
terukur dan penulisan esai yang mampu melebihi batas imajinasi mereka.
Kampanye ‘revolusi mental bangsa’,
bukanlah sekedar jargon politis, melainkan sudah dipraktikkan di
sekolah-sekolah dasar di Australia. Mereka hadir secara langsung menanamkan
karakter positif dan optimis sejak dini melalui permainan yang menyenangkan,
mudah, terjangkau tanpa fasilitas mahal. Misalnya ada tradisi pemilihan school
captain, semacam Ketua OSIS untuk tingkat SD. Para kandidat harus
mendaftar dan menawarkan program-programnya lalu
mereka berdebat di depan guru-guru dan
teman-temannya. Mereka berargumen secara bergantian,
tanpa memotong pembicaraan.
Kebetulan anak sulung saya, Aliya
Zahra terpilih sebagai school captain saat ia duduk di kelas enam. Ia
terpilih bukan bukan hanya karena tawaran programnya dan keberaniannya
berpendapat, tetapi karena kemampuannya menghormati pendapat orang lain.
Kapan suasana seperti ini bisa
dijumpai dan dinikmati oleh anak-anak kita di sekolah-sekolah Indonesia? Saya
berharap, cerita-cerita tentang sekolah yang menyenangkan itu dapat dikumpulkan
bersama dan dibagikan secara masif ke sekolah-sekolah di Nusantara. Mungkin
upaya itu akan membantu menambah wawasan dan motivasi bagi para guru, orang
tua, dan anak-anak di Indonesia untuk mendapatkan pengalaman bagaimana
sekolah-sekolah di negara maju diterapkan.
Agar
para orang tua dan stake holder pendidikan di Indonesia dapat berpikir kritis
dan tidak terjebak oleh jargon “internasionalisasi” yang hanya menggunakan
bahasa asing dan bekerjasama dengan institusi asing. Agar seluruh siswa dari
berbagai lapisan masyarakat dapat dengan mudah merasakan bahwa internasionalisasi
itu bukan hanya belajar dengan fasilitas mahal dan teknologi maju, tetapi
justru menekankan aspek pendidikan karakter yang sebenarnya telah diajarkan
oleh para leluhur bangsa.
Thanks
BalasHapus